Kita mencintai apapun yang berbau luar negeri, beraroma impor, mulai dari gadget, sepatu, pakaian , tas hingga soal selera perut maunya bernuansa internasional atau brand minded. Bila berbicara mutu maka cukup realistislah produk-produk multinasional tersebut yang mendunia dari QA (Quality assurance) dan QC (Quality Control)-nya.
Ibukota Jakarta pusat bagi pemburu barang-barang brand minded seperti mudah saja melihat antrian panjang saat grand opening roti Bread-talk, sepatu dan sandal Crocs, Telepon pintar Blackberry Dakota hingga Antrian panjang juga terjadi saat Midnight sale produk fashion brand asal spanyol yang pernah tersandung masalah perbudakan buruh yaitu ‘Zara’.
Ternyata tidak hanya produk-produk fashion yang import minded, komoditas pangan impor juga membanjiri Indonesia. Negeri swasembada beras kini juga impor beras, sebanyak 2 juta Ton beras impor menghantam harga beras lokal.
Kondisi ini juga terjadi pada variasi pangan lainnya mulai dari jagung, singkong, bawang merah, cabai, susu, daging, gula pasir, minyak goreng hingga ke buah-buahan seperti apel, jeruk mandarin, kelengkeng china, anggur tanpa biji, buah pir, dan durian montong. Negeri agraris kini impor pangan dari luar negeri. Impor pada tahun 2011 diantaranya pada komoditas: beras, sebesar 2,5 juta ton; jagung 2 juta ton; kedelai 2,8 juta ton; gula 3,06 juta ton senilai 1,96 dolar AS; teh senilai 11 juta dolar AS, papar Tejo.
Secara sederhana, jauh sebelum impor pangan di berlakukan, semua kebutuhan pangan tercukupi dari para petani, peternak dan nelayan yang hidup jauh dari hingar bingar kota. Produksi kebutuhan perut masyarakat kota di penuhi oleh masyarakat yang ada di rural area.
Read the rest of this entry »