Tissa Sasnida

Perempuan | Anak Alam | Feminist
April 24th, 2012 by Tissa

Nature as Good Mother

IMG_0201

Nature supports all life,
women are the life-givers of the human species
women are closer connection to the natural
women has a greater affinity

imagery of nature as the Good Mother is empowering for women and can also help the environment since women are, in fact, closer to nature.

 

*Dedicated to all women activist Against the Natural Damage

March 26th, 2012 by Tissa

Import minded, Festival Desa dan Petani.

IMG00126-20120324-1211

Kita mencintai apapun yang berbau luar negeri, beraroma impor, mulai dari gadget, sepatu, pakaian , tas hingga soal selera  perut maunya bernuansa internasional  atau brand minded. Bila berbicara mutu maka cukup realistislah produk-produk multinasional tersebut yang mendunia dari  QA (Quality assurance) dan QC (Quality Control)-nya.

Ibukota Jakarta pusat bagi pemburu barang-barang brand minded seperti mudah saja melihat antrian panjang saat grand opening roti Bread-talk, sepatu dan sandal Crocs, Telepon pintar Blackberry Dakota hingga Antrian panjang juga terjadi saat Midnight sale produk fashion brand asal spanyol yang pernah tersandung masalah perbudakan buruh yaitu ‘Zara’.

Ternyata tidak hanya produk-produk fashion yang import minded, komoditas pangan impor juga membanjiri Indonesia. Negeri swasembada beras kini juga impor beras, sebanyak 2 juta Ton beras impor menghantam harga beras lokal.

Kondisi ini juga terjadi pada variasi pangan lainnya mulai dari jagung, singkong, bawang merah, cabai, susu, daging, gula pasir, minyak goreng hingga ke buah-buahan seperti apel, jeruk mandarin, kelengkeng china, anggur tanpa biji, buah pir, dan durian montong. Negeri agraris kini impor pangan dari luar negeri. Impor pada tahun 2011 diantaranya pada komoditas: beras, sebesar  2,5 juta ton; jagung 2 juta ton; kedelai 2,8 juta ton; gula 3,06 juta ton senilai 1,96 dolar AS; teh senilai 11 juta dolar AS, papar Tejo.

Secara sederhana, jauh sebelum impor pangan di berlakukan, semua kebutuhan pangan tercukupi dari para petani, peternak dan nelayan yang hidup jauh dari hingar bingar kota. Produksi kebutuhan perut masyarakat kota di penuhi oleh masyarakat yang ada di rural area.

Read the rest of this entry »

March 19th, 2012 by Tissa

Relasi Perempuan Mollo dan Alam

Feminist itu pasti melawan –Dewi Chandraningrum

Copyright From Isti
Sebuah nama yang tiba-tiba menyeruak dari keheningan aktifitas dan perjuangannya, Ia hadir kepermukaan dalam hirukpikuk masyarakat ibukota namun tidak banyak yang mengenal beliau, siapa dan apa yang diperjuangkannya?. Pertemuan berawal dari sebuah video dokumenter  saat persiapan menjelang  STOS (south to south film festival) dimana saya tergabung sebagai relawan. Video tersebut berjudul ‘Aleta Baun’ yang menceritakan tentang dirinya sebagai ibu rumah tangga dalam budaya patriarki Mollo dan tergugah untuk menyelamatkan kelestarian pegunungan Nausus dan Anjaf di Kabupaten Timor tengah selatan, NTT yang dirusak oleh pertambangan Marmer. Aleta Baun atau biasa disapa Mama Aleta adalah seorang fasilitator pembangunan bagi masyarakat adat Mollo yang terletak di kecamatan Nausus. Kemudian menjadi timbul apa relasi perempuan dan alam dan bagaimana relasi perempuan dalam pengelolaan alam dalam menghadapi perubahan ekologi.
February 28th, 2012 by Tissa

Memahami Gender Stereotip

Gender roles are “socially and culturally defined prescriptions and beliefs about the behavior and emotions of men and women” (Anselmi and Law 1998, p. 195).

Dalam kehidupan sehari-sehari disaat terdapat rekan dekat kita yang baru melahirkan bayi perempuan ataupun laki-laki rasanya kita begitu bersemangat untuk memberikan kado bagi si-Bayi, bila si Bayi perempuan maka bentuk hadiah yang berikan sesuatu barang yg berwarna pink ,pastel, bergambar lembut atau seuatu yang cantik. Bila Bayinya laki-laki maka hadiah yang berikan akan berwarna biru atau berwarna ‘strong’dengan gambar tokoh hero atau ksatria, panggilan pun melekat seperti “Putri” (Perempuan) dan ‘jagoan’ (laki-laki). Kondisi ini sebagai ‘sesuatu yang terberi’ dalam ruang sosial dan budaya”, Kodrat. Induksi pembedaan pikiran dan tindakan berdasarkan jenis kelaminnya sudah dilakukan sudah dimulai sejak si bayi lahir kedunia hingga dalam masa kanak-kanak dimana anak laki-laki dan perempuan juga diarahkan secara berbeda melalui aktifitas bermain yang dapat ditunjukkan melalui warna dan jenis mainan, seperti mainan untuk anak perempuan; cooking set, dressing table,iron set, rumah boneka, nursing set, beauty giftset.Mainanan bagi anak laki-laki adalah Robot, Tokoh heros, Peralatan polisi, pistol, Pedang, tool box, Mobil, puzzle, sports, dan sebagainya.

Read the rest of this entry »

February 28th, 2012 by Tissa

Ketika bentuk tubuh punya sejarah

moss

Tahun berganti, pandangan bagaimana perempuan harus terlihat (baca; tren) fashion pun berganti. Bagaimana Iklan media menggunakan gambaran “kecantikan” perempuan melalui produk-produknya pun berganti. Sedikit ingatan sebuah tag line “trend warna sari ayu 2010″, menggunakan Model yang tinggi semampai, berwajah khas oriental atau ayu atau bagaimana iklan ponds menghipnosis melalui bahwa pria hanya akan menyukai perempuan yang berwajah putih berseri. Bagaimana saya sempat mengalami rasa malu bergigi tidak sempurna hingga memutuskan untuk menggunakan kawat gigi. Apa yang lantas terjadi sehingga seorang perempuan mengalami rasa malu, rasa tidak puas dengan kondisi fisik yang terdapat pada dirinya, bagaimana lingkungan memberikan tekanan hebat agar seorang perempuan dapat menyesuaikan dirinya dengan kompetisi kecantikan dilingkungan. Semua Perempuan ingin cantik melalui produk kecantikan hingga kecenderungan menggunakan pakaian dan barang-barang bermerk agar nampak sama seperti yang terlihat pada iklan. Ini pengaruh yang mencerminkan iklan media (majalah,surat kabar maupun, eletronik).

Read the rest of this entry »

February 28th, 2012 by Tissa

Infertilitas dalam konstruksi sosial

hameuam

Pagi panas awan bergeser mendung..

Pagi yang menggoyahkan rasa keingin tahuan

Marriage is the destiny traditionally offered to women by society

–Simone De Beauvoir, Second sex (1952)-

Akan segera menjadi wanita sempurna adalah status yang ku salin dari seorang teman. Bagaimana seorang teman berupaya berusaha sekuat tenaga agar menjadi wanita yang sempurna dalam persepsi dirinya (Hamil dengan kondisi organ reproduksi yang mengalami gangguan), namun bagiku ini adalah persepsi yang dibangun oleh sosial-budaya.

Read the rest of this entry »

February 28th, 2012 by Tissa

Aku Perempuan

Aku Perempuan

Aku dibentuk dari sebuah rahim
Aku dilahirkan dari setitik lubang bernama vagina
Aku dibesarkan agar seperti perempuan
Aku dibesarkan dengan stigma “kodrat” bernama perempuan
Aku ditasbihkan Perempuan

Read the rest of this entry »

February 28th, 2012 by Tissa

Ibu

Ibu.. Ibu adalah keinginan terbesarmu untuk tidak menjadi istri pendamba surgawi seperti dirinya.

Ibu.. Ibu adalah tempat bagimu berdiskusi apapun hingga kau terlelap dipangkuannya

Ibu.. Ibu adalah tempat yang paling nyaman untuk kau protes. Protes mengenai ketidakadilan yang terstigma oleh lingkunganmu.

Ibu.. Ibu adalah tempat bagimu menganalisa stigma sosial yang terbentuk pada dimasyarakat.

Read the rest of this entry »

February 28th, 2012 by Tissa

Ilham dan anak jalanan

Perjalananan dimulai dengan berkawan akrab calo. pun biasanya. Tujuan langganan adalah Yogyakarta dan kereta ekonomi tentulah sahabat bagi kantong. Hujan yang cukup deras, macet atau sampai kehabisan tiket tidak pernah jadi soal untukku. Kali ini kepergianku ke Yogya ini tidak lagi sendiri untuk menghampiri calon suami yang bekerja dan sedang menyelesaikan sekolahnya. kali ini kami datang bersama dengan tujuan yang berbeda. Ia akan Presentasi makalahnya di acara Konferensi Pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas di Shelter Merapi dan aku mencari jurusan yang menggugah itu untuk melanjutkan sekolah yaitu kajian perempuan di UGM.

Malam itu kami menduduki kursi no 24 D dan E yang mana bersampingan dengan toilet, tidak perlu diceritakan bagaimana harum semerbaknya toilet kereta ekonomi ini. Bila kereta tidak sedang jalan tidak perlu digambarkan pula bagaimana harum pesingnya. Dalam perjalanan menaiki kereta hobi utamaku adalah tidur atau membaca buku hingga mengantuk. Kali ini aku memilih tidur untuk membunuh panas dan pesing.

Read the rest of this entry »

February 28th, 2012 by Tissa

Kekerasan verbal berbalut Humor

Sering kali tanpa disadari kita sering sekali mendengar kekerasan verbal yang  dilakukan anggota keluarga, kerabat dekat. Sering sekali juga saya mendengar teman atau bahkan saya sendiri mendapat perlakuan kekerasan verbal dilingkungan bermain. Hal ini dianggap biasa dalam humor sehari-hari. Kekerasan verbal berbalut humor ini kental sekali dengan komentar-komentar yang disampaikan dengan sangat cantik. Tetapi pada intinya komentar-komentar itu ditujukan untuk menyerang dan menjatuhkan pertahanan seseorang dalam hal ini khususnya perempuan. Dan, sayangnya, kekerasan verbal ini tidak hanya dilakukan oleh kaum pria dan perempuan juga turut mengamini. sayangnya tidak ada kemarahan publik yang besar terhadap hal ini, dan tentu saja tidak ada kebijakan tertuntu sehingga kekerasan seperti ini tidak dapat dituntut secara hukum dan pada akhirnya hanya membekas secara emosional pada korban khususnya perempuan.

Read the rest of this entry »